Pernah gak sih, baru mikirin mau beli sepatu, eh… 5 menit kemudian iklannya muncul di IG atau TikTok? Creepy? Selamat datang di era ‘Hyper-Personalization’. AI sekarang gak cuma tahu apa yang kamu browsing, tapi ‘ngeramal’ apa yang kamu mau.
Ini lebih dari sekadar “Orang yang beli A juga beli B”. Ini soal AI nganalisis jutaan data point kamu—jam berapa kamu online, di mana lokasimu, kamu scroll video apa aja—buat bikin profil psikologis kamu. Ngeri!
‘Sotoy’ yang Jadi Cuan
Buat brand dan e-commerce di RI, ini ‘Harta Karun’. Nggak ada lagi iklan ‘salah sasaran’. Semua dibikin ‘pas’ buat kamu doang. Konversi penjualan bisa naik gila-gilaan. Tapi… batas antara ‘membantu’ dan ‘menguntit’ jadi tipis banget.
Ke depannya, ini bakal makin ‘gila’. AI bakal jadi personal shopper kamu. Tantangannya? Jaga privasi. Konsumen mau dibantu, tapi nggak mau ‘di-stalking’. Brand yang bisa nemu ‘jurus’ paling elegan di sini yang bakal jadi pemenangnya.
Intisari:
- ‘Hyper-Personalization’ adalah tren AI memprediksi keinginan konsumen sebelum mereka sadar.
- AI menganalisis jutaan data (lokasi, jam online, perilaku) untuk membuat profil akurat.
- Bagi brand dan e-commerce, ini meningkatkan konversi penjualan secara drastis.
- Tantangan ke depan adalah menyeimbangkan personalisasi yang ‘membantu’ vs. privasi yang ‘menguntit’.

