Wabah Demam Berdarah dan Adaptasi Iklim: Mengapa Asia Tenggara Menjadi Episentrum Baru.

Wabah Demam Berdarah dan Adaptasi Iklim: Mengapa Asia Tenggara Menjadi Episentrum Baru.

0 0
Read Time:1 Minute, 5 Second

Asia Tenggara terus menjadi wilayah yang paling rentan terhadap wabah Demam Berdarah Dengue (DBD), namun frekuensi dan intensitasnya kini diperburuk oleh perubahan iklim global. Peningkatan suhu dan perubahan pola hujan memperluas habitat nyamuk Aedes aegypti, memungkinkan mereka berkembang biak di ketinggian yang lebih tinggi dan musim yang lebih panjang. Kawasan ini kini dianggap sebagai episentrum baru bagi penyakit menular yang terkait dengan vektor.

Untuk mengatasi ancaman ini, negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, dan Thailand mulai mengimplementasikan strategi adaptasi iklim dalam program kesehatan masyarakat. Inovasi seperti pemodelan berbasis AI digunakan untuk memprediksi lonjakan kasus DBD berdasarkan data suhu, curah hujan, dan kepadatan populasi, memungkinkan intervensi pencegahan dilakukan lebih cepat dan terarah. Pendekatan ini jauh lebih efektif daripada respons pasif.

Terobosan signifikan datang dari penggunaan teknologi Wolbachia, bakteri yang dapat memblokir penularan virus Dengue pada nyamuk. Program pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di kota-kota seperti Yogyakarta (Indonesia) menunjukkan keberhasilan signifikan dalam menurunkan kasus, menarik perhatian negara-negara tetangga yang ingin mereplikasi program tersebut sebagai solusi berbasis bio-teknologi.

Perjuangan melawan DBD di Asia Tenggara kini adalah perjuangan melawan perubahan iklim itu sendiri. Kesadaran publik mengenai perlunya adaptasi iklim di tingkat rumah tangga, ditambah dengan inovasi ilmiah dan dukungan kebijakan pemerintah, sangat penting untuk mencegah krisis DBD bertransformasi menjadi krisis kesehatan masyarakat permanen di kawasan padat penduduk ini.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %