Asia Tenggara memiliki budaya modifikasi sepeda motor yang sangat hidup dan mengakar, di mana personalisasi mesin, suara knalpot, dan peningkatan performa adalah bagian dari identitas. Integrasi motor listrik (e-motor) ke dalam budaya ini menghadirkan tantangan besar, terutama karena motor listrik menghilangkan dua elemen kunci modifikasi: suara mesin yang keras dan modifikasi internal mesin yang kompleks.
Para penggemar modifikasi tradisional sering kali mengeluhkan ketiadaan suara khas dari motor listrik, yang menghilangkan aspek performatif dan identitas yang melekat pada modifikasi knalpot. Selain itu, sistem propulsi listrik yang tertutup dan berbasis perangkat lunak membatasi kemampuan para tuner untuk membongkar dan memodifikasi komponen mesin secara fisik.
Untuk mengatasi ini, startup motor listrik di Asia Tenggara mulai berinovasi. Mereka bereksperimen dengan desain yang memungkinkan personalisasi pada baterai, sistem software tuning untuk mengatur torsi dan akselerasi, serta menambahkan sound generator yang meniru suara mesin konvensional untuk mempertahankan sensasi akustik.
Masa depan motor listrik di Asia Tenggara bergantung pada kemampuan produsen untuk menghargai dan beradaptasi dengan budaya modifikasi yang ada. Jika motor listrik dapat menawarkan kebebasan personalisasi yang sama, atau bahkan lebih, melalui kustomisasi digital, maka integrasinya ke dalam budaya biker Asia Tenggara akan berjalan mulus.

