Konsep Four-Day Work Week (minggu kerja empat hari) mulai diuji coba oleh perusahaan-perusahaan perintis di Asia, dengan Jepang dan Singapura memimpin dalam eksperimen awal ini. Model ini, yang bertujuan untuk meningkatkan keseimbangan kerja dan kehidupan, menantang budaya kerja keras (workaholic) yang telah lama mengakar di Asia.
Di Jepang, di mana isu karoshi (kematian akibat terlalu banyak bekerja) menjadi masalah serius, perusahaan besar mulai mengizinkan karyawan untuk mengambil tiga hari libur setiap minggu. Hasil awal menunjukkan peningkatan signifikan dalam moral dan kesehatan mental karyawan, bahkan di tengah kekhawatiran tentang produktivitas. Fokus utamanya adalah meningkatkan efisiensi kerja yang terfokus selama empat hari, bukan bekerja lebih lama.
Singapura, sebagai hub finansial global, juga menguji model ini untuk menarik dan mempertahankan talenta, terutama dari generasi Milenial dan Gen Z yang memprioritaskan fleksibilitas. Bagi Singapura, ini adalah alat kompetitif untuk melawan brain drain ke negara-negara Barat yang menawarkan opsi kerja yang lebih fleksibel.
Meskipun masih dalam tahap awal dan menghadapi skeptisisme dari perusahaan tradisional, eksperimen four-day work week di Asia menunjukkan adanya pergeseran budaya yang mendasar. Ini adalah upaya untuk mendefinisikan kembali kesuksesan bukan hanya berdasarkan jam kerja, tetapi berdasarkan output dan kesejahteraan karyawan.

