Di panggung dunia, kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari militer atau ekonominya, tetapi juga dari daya tarik budayanya. Inilah yang disebut soft power. Indonesia, dengan keragaman budaya yang luar biasa, memiliki modal besar untuk “menjajah” dunia, bukan dengan senjata, tetapi melalui kuliner dan seni.
Rendang yang dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia adalah contoh sempurna. Diplomasi kuliner, atau “gastrodiplomacy”, adalah alat yang efektif untuk memperkenalkan Indonesia. Ketika seseorang di Amsterdam jatuh cinta pada sepiring nasi goreng atau gado-gado, mereka secara tidak sadar membangun citra positif tentang Indonesia.
Selain kuliner, seni kontemporer, film, dan musik Indonesia mulai mendapat perhatian global. Sutradara film seperti Joko Anwar, desainer seperti Tex Saverio, dan musisi seperti Rich Brian telah menjadi duta budaya yang memperkenalkan wajah modern Indonesia. Mereka membuktikan bahwa seni Indonesia mampu bersaing di kancah internasional.
Namun, upaya ini masih berjalan sporadis dan belum terkoordinasi dengan baik. Banyak program promosi budaya di luar negeri masih bersifat seremonial. Kita membutuhkan strategi jangka panjang yang lebih agresif, seperti yang dilakukan Korea Selatan dengan “Hallyu” (Korean Wave) mereka, yang secara sistematis mempromosikan K-Pop dan K-Drama.
Investasi pada industri kreatif dan fasilitasi bagi seniman serta koki untuk tampil di panggung global adalah kuncinya. Soft power bukan hanya soal citra; ia berpotensi besar mendatangkan devisa pariwisata dan meningkatkan ekspor produk kreatif. Inilah saatnya diplomasi Indonesia tidak hanya berfokus pada politik, tetapi juga pada “rasa” dan “karya”.

