India, meskipun memiliki pasar otomotif yang besar dan kebutuhan mendesak untuk mengurangi polusi, sangat lambat dalam adopsi Electric Vehicle (EV) dibandingkan dengan Tiongkok atau bahkan beberapa negara di Asia Tenggara. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh beberapa faktor kompleks, termasuk masalah infrastruktur, biaya, keterbatasan pilihan model, dan persepsi konsumen.
Salah satu hambatan terbesar adalah kurangnya infrastruktur pengisian daya yang memadai. Jaringan pengisian daya di India masih sangat terbatas dan tidak merata, terutama di luar kota-kota besar. Ini menimbulkan “range anxiety” atau kekhawatiran kehabisan daya bagi calon pembeli EV, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Investasi dalam pembangunan stasiun pengisian daya yang cepat dan andal menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.
Faktor biaya juga sangat signifikan. Meskipun pemerintah India menawarkan beberapa subsidi, harga awal EV masih jauh lebih tinggi dibandingkan mobil bensin atau diesel yang terjangkau. Bagi mayoritas konsumen India yang sensitif terhadap harga, EV belum menjadi pilihan yang menarik secara finansial, terutama jika dikombinasikan dengan biaya penggantian baterai yang mahal di masa depan.
Keterbatasan pilihan model EV di pasar India juga menjadi isu. Meskipun beberapa produsen mulai memperkenalkan EV, variasi model yang tersedia masih terbatas dibandingkan mobil konvensional. Konsumen menginginkan pilihan yang lebih luas dalam hal harga, ukuran, dan fitur untuk memenuhi kebutuhan mereka yang beragam.
Selain itu, persepsi konsumen terhadap EV masih perlu ditingkatkan. Ada kurangnya kesadaran tentang manfaat EV, dan kekhawatiran tentang keandalan, perawatan, dan nilai jual kembali. Pemerintah dan industri perlu bekerja sama untuk mengedukasi masyarakat dan membangun kepercayaan terhadap teknologi EV. Hanya dengan mengatasi hambatan-hambatan ini secara komprehensif, India dapat mempercepat adopsi EV dan meraih manfaat lingkungan serta ekonomi yang ditawarkannya.

